Kamis, 11 Juli 2013

Karya Arsitektur Mahasiswa Pontianak Terbaik Tingkat Nasional


JAKARTA, KOMPAS.com - Kaum muda seharusnya identik dengan inovasi dan gerakan pembaruan. Namun, tidak ada salahnya menghargai kekayaan budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dua poin penting ini disampaikan para finalis "Kompetisi Nasional Mahasiswa Arsitektur Perancangan Pasar dan Ruang Pertunjukan" yang diselenggarakan oleh Biro Arsitek Aboday dan Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Pelita Harapan.

Lewat karya-karyanya, para peserta menyatakan bahwa penggunaan ruang publik secara tradisional dapat dilestarikan dengan pengelolaan yang lebih baik. Hal tersebut tentu dapat meningkatkan kualitas hidup penduduk sekitar.

Secara spesifik finalis dari Universitas Tanjung Pura, Pontianak, Johan M. Sitio, mengungkapkan pendapatnya mengenai penggunaan ruang secara tradisional, khususnya sebagai pasar. Johan merupakan satu dari dua pemenang sayembara tersebut.

"Saya merancang sebuah karya, supaya pasar tradisional lebih dihormati karena pasar tradisional merupakan unsur khas dari satu daerah. Saya ingin agar pasar tradisional tidak tertinggal dari pasar modern, bahkan suatu saat jadi lebih menarik darinya.," ujarnya kepada Kompas.com, di Jakarta, Kamis (11/7/2013).

Johan merancang Pasar Wisata Mandiri, sebagai bentuk pelestarian Pasar Parit Besar di tepi Sungai Kapuas, Kalimantan Barat. Ia bercita-cita menggabungkan segala kelebihan pasar modern dan pasar tradisional. Ramai dan adanya kemungkinan proses tawar-menawar sebelum transaksi ingin ia padukan dengan kebersihan, zonasi yang baik, serta hiburan. Untuk itu, pada desain yang ia ajukan, di dalamnya akan terdapat ruang publik untuk pertunjukan kecil.

Dengan kata lain, Johan "mengangkat" Pasar Apung ke permukaan. Pasar Parit Besar menjadi pilihannya lantaran saat ini pasar tersebut semakin tertinggal, terlebih sejak adanya jembatan di dekat lokasi. Padahal, pasar unik ini dapat menjadi salah satu objek pariwisata.

Desain Pasar Wisata Mandiri akan menggunakan teknologi panel surya dan biogas untuk memudahkan para penjual mendapat sumber energi. Johan merancang sistem yang mengandalkan ketergantungan antara penjual di pasar, serta pengepul dan pengolah sampah. Penjual di pasar akan mengumpulkan sampahnya, memberikan pada pengepul yang kemudian akan menjadikan sampah sebagai biogas untuk kembali digunakan oleh penjual. Siklus semacam ini akan terus terjadi dan menciptakan alur berkelanjutan.

Atap untuk meneduhkan penjual dan pengunjung yang terbuat dari bambu juga berfungsi sebagai penadah air hujan untuk sumber air bersih.

Ide brilian ini memang belum sempurna. Namun, dewan juri yang diwakili oleh Principal Aboday Rafael David mengatakan, Johan mampu menginterpretasikan kondisi makro ke wilayah mikro. Karya Johan dan Pandu, mahasiswa Universitas Diponegoro, Semarang, terpilih menjadi yang terbaik.

"Bila dibandingkan dengan ketiga peserta lainnya, mereka tidak masuk ke permasalahan lebih jauh seperti Johan," imbuh Rafael.


http://properti.kompas.com/read/xml/2013/07/11/1751484/Karya.Arsitektur.Mahasiswa.Pontianak.Terbaik.Tingkat.Nasional

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Forum Indah Web Id Powered by Blogger