Senin, 22 Juli 2013

Transaksi Hotel di Asia Capai Rp 13 Triliun!


KOMPAS.com -
Tiga kota di Asia yakni Singapura, Hong Kong dan Tokyo memperlihatkan kinerja pertumbuhan hotel yang solid selama semester I 2013. Khusus Tokyo, pasar domestiknya secara fundamental semakin membaik.

Menurut riset Jones Lang LaSalle, secara keseluruhan, jumlah transaksi juga meningkat, termasuk penambahan portofolio dan sentimen positif yang diperlihatkan tingkat penjualan.

Selama semester I 2013, transaksi yang terbukukan di pasar Asia mencapai 1,3 miliar dollar AS (Rp 13 triliun). Angka ini lebih dari separuh transaksi yang mampu dihasilkan pada periode yang sama 2012 yakni sebesar 600 juta dollar AS (Rp 6,04 triliun).

Kendati beberapa pasar menunjukkan peningkatan kinerja dan minat investor, namun terbatasnya pipeline di Asia Tenggara menstimulasi pemilik hotel enggan melepas asetnya. Sementara di sisi lain, investor sangat aktif mencari peluang yang mereka inginkan.


Tahun lalu, investasi menunjukkan divergensi lebih luas antara penjualan dan ekspektasi pembeli. Cina, India dan Indonesia terus menunjukkan struktur kepemilikan yang menantang. Menariknya, investasi China secara signifikan justru turun ketimbang tahun-tahun sebelumnya. Investasi di Negeri Tirai Bambu ini mendekati 800 juta dollar AS (Rp 8,06 triliun) per tahun sejak krisis keuangan global 2008. Sejauh ini, peningkatan penjualan mencapai volume sekitar 10 persen lebih tinggi ketimbang tahun lalu.

Riset tersebut juga mengungkapkan data penjualan semester I 2013. Singapura berkontribusi 44 persen terhadap transaksi regional, terutama karena penjualan Park Hotel Clarke Quay  seharga 238 juta dollar AS (Rp 2,3 triliun). Disusul Thailand yang terus mengkonsolidasikan posisinya sebagai pasar investasi hotel prospektif. Hal ini terbukti dari suksesnya penjualan Laguna Beach Resort di Phuket. Transaksi ini menjadikan Thailand sebagai pasar investasi paling "hot" saat ini.

Pasar investasi hotel Jepang juga mengalami pertumbuhan positif dengan pulihnya kinerja seperti ke masa sebelum gempa dan tsunami. Permintaan korporasi dan liburan domestik menjadi faktor pendorong yang sangat kuat.

Investasi lintas batas

Arus modal lintas batas selama beberapa tahun terakhir juga menunjukkan pertumbuhan. Singapura masih merupakan sumber pasar utama penanaman modal di hotel regional. Selama semester 1 2013, bersama Jepang, Singapura telah berkontribusi terhadap mayoritas investasi masing-masing 37 persen dan 34 persen.


Profil pembeli hotel merupakan investor pribadi, institusi dan korporasi besar. Mereka merestrukturisasi portofolio untuk rating investasi. Real Estate Investment Trust (REITs) dan ekuitas swasta adalah pembeli paling aktif tahun 2012 dengan volume investasi hampir setengahnya.

Menurut Jones Lang LaSalle, memasuki semester II 2013, volume transaksi hotel diproyeksikan meningkat 1 miliar dollar AS, sedikit di atas volume transaksi periode yang sama tahun lalu. Ini bisa menghasilkan total penjualan sebanyak 2,5 miliar dollar AS (Rp 25,1 triliun) hingga 3 miliar dollar AS (Rp 30,2 triliun).

Di mana posisi Jakarta? Jakarta telah merilis proyek transportasi massal tahap pertama yang akan menghubungkan Lebak Bulus di Jakarta Selatan ke pusat kota, Bundaran Hotel Indonesia. Hal ini dipandang akan melanjutkan kepercayaan pasar sebagaimana diperlihatkan sektor properti lainnya dengan kondisi kuatnya permintaan.


http://properti.kompas.com/read/xml/2013/07/22/1937444/Transaksi.Hotel.di.Asia.Capai.Rp.13.Triliun.

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Forum Indah Web Id Powered by Blogger