Rabu, 04 September 2013

Hunian Seharga Rp 500 juta-Rp 2 Miliar Paling Laris di Batam

BATAM, KOMPAS.com - Produk properti perumahan dengan harga serentang Rp 500 juta hingga Rp 2 miliar, paling laris di wilayah Batam, Kepulauan Riau. Bahkan, dalam kurun dua tahun terakhir, penjualannya mengalami peningkatan seiring dengan menguatnya permintaan yang berasal dari kalangan menengah.

Menurut Ketua DPD REI Khusus Batam, Djaja Roeslim, ceruk pasar properti Batam memang didominasi segmen pasar menengah. Selain pasar lokal, pembeli dari seluruh wilayah Indonesia, juga meminati produk properti di sini.

"Batam diminati karena sebagai wilayah transit para pebisnis maupun pelancong seluruh Nusantara. Selain itu, secara demografis, berada di tengah-tengah, dekat dengan Singapura, dan kota-kota utama lainnya seperti Medan dan Palembang, sehingga memungkinkan pebisnis melakukan transaksinya di sini. Dampaknya, kebutuhan hunian berikut fasilitas pendukungnya juga tumbuh stabil," jelas Djaja kepada Kompas.com, Rabu (4/9/2013).

Status sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas yang ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah nomor 46 tahun 2007 juga ikut mendorong peningkatan transaksi sektor hunian kelas menengah. "Di sini, properti bebas pajak. Jadi meringankan konsumen dan investor membeli hunian berikut fasilitas pendukungnya," imbuh Djaja.

Ada pun kawasan pengembangan yang sekarang menjadi incaran adalah Batam Center. Harga lahannya relatif lebih kompetitif yakni Rp 2 juta-Rp 5 juta per meter persegi. Ini merupakan distrik bisnis terpadu (central business district) baru. Dalam lima tahun ke depan, Batam Center akan memimpin sebagai CBD dengan pertumbuhan tertinggi.

Di Batam Center inilah para pengembang raksasa Nasional seperti Agung Podomoro Group (APG) dan Ciputra Group membangun proyek mereka. Ciputra dengan CitraLand Megah, dan APG dengan Orchard Park Batam.

Menurut Vice President Marketing APG, Indra W Antono, Batam merupakan daerah industri di mana banyak perusahaan nasional dan asing beroperasi. Perusahaan asing ini mempekerjakan ribuan karyawan dan eksekutif.

"Ini kesempatan bagi investor untuk menyewakan properti mereka," ujar Indra.

Kehadiran para pengembang ini menstimulasi bisnis properti di sini semakin menggairahkan. Terbukti, beberapa pengembang lokal mulai rajin melansir produk baru. Sebut saja PT Trias Jaya Propertindo.

Menyusul keberhasilan penjualan ruko Grand Niaga Mas sebanyak 300 unit, mereka akan menawarkan hunian kelas menengah dengan harga mulai dari Rp 500 juta hingga Rp 1,5 miliar per unit. Area pengembangan perumahan tersebut seluas 7 hektar.

Apartemen belum saatnya

Jika sektor hunian perumahan tumbuh pesat, tidak demikian halnya dengan apartemen. Menurut Djaja, Batam belum membutuhkan hunian vertikal. Pasalnya, kondisi perkotaan belum seperti Jakarta atau kota-kota besar lainnya di Indonesia. Arus lalu lintas masih relatif lancar dan densitas populasi juga tidak begitu tinggi.

"Saat ini, pasar apartemen belum terbentuk di Batam. Selain itu, gaya hidup tinggal di apartemen juga belum mewabah. Warga sini masih merasa nyaman tinggal di rumah tapak. Namun, jika segala kondisi sudah berubah dalam tiga atau lima tahun ke depan, lain cerita," ujar Djaja.

Buktinya, beberapa pengembangan apartemen mengalami kegagalan. Kalau pun terbangun, tidak dihuni alias kosong. Sementara ada bangunan apartemen yang separuh dari total unitnya dikonversi menjadi hotel.


http://properti.kompas.com/read/xml/2013/09/04/1909571/Hunian.Seharga.Rp.500.juta.Rp.2.Miliar.Paling.Laris.di.Batam

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Forum Indah Web Id Powered by Blogger