Kamis, 05 September 2013

Relawan Korea Rambah Desa Miskin Pinggiran Jakarta

BOGOR, KOMPAS.com — Sejumlah 35 relawan asal Korea Selatan yang mengenakan rompi kerja, sepatu boots, dan topi pancing tampak berlalu-lalang di Desa Cijayanti, Sentul, Kabupaten Bogor, pada Kamis (5/9/2013) siang. 

Sebagian dari mereka sibuk mengamplas kayu, sementara sebagian lagi tampak kelelahan dan beristirahat di bawah tenda. Sesekali, mereka bercanda dengan anak-anak kecil di desa tersebut tanpa saling mengerti percakapan satu sama lain.

Mereka adalah relawan yang datang dari Korea Cadastral Survey Corporation (KCSC). KCSC bekerja sama dengan Habitat for Humanity Indonesia membangun tiga unit rumah untuk penduduk. Pembangunan tersebut bersifat bedah rumah.

Tiga keluarga desa yang paling membutuhkan, rumahnya diperbaiki oleh Habitat for Humanity Indonesia dengan dana dari KCSC serta tenaga dari relawan KCSC dan Habitat for Humanity Indonesia.

Pembangunan rumah tersebut rencananya akan rampung dalam 21 hari, terhitung sejak 22 Agustus 2013 hingga 12 September 2013. Para relawan membantu pengerjaan selama empat hari, sejak 2 September 2013 lalu.

Secara resmi, para relawan yang didampingi oleh CEO KCSC Kim Young-Ho dan Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia Kim Young-Sun, serta National Director Habitat for Humanity Indonesia James Tumbuan menyerahkan ketiga rumah tersebut ke masyarakat setempat pada Kamis (5/9/2013).

Penyerahan secara simbolis tersebut tidak hanya berupa tiga rumah, tetapi juga untuk menyerahkan hasil hazard assessment atau penilaian ancaman bencana di Desa Cijayanti. Karena longsor rawan menimpa daerah tersebut, maka penduduk setempat diberikan peta jalur evakuasi yang aman.

CEO KCSC Kim Young-Ho, Duta Besar Republik Korea Selatan untuk Indonesia Kim Young-Sun, serta National Director Habitat for Humanity Indonesia James Tumbuan sepakat mengenai harapan akan hubungan bilateral Korea Selatan-Indonesia yang semakin baik di masa mendatang. 

Menurut James, meski kebutuhan rumah ada di mana-mana, tetapi ketiga keluarga yang rumahnya dibangun kembali ini layak dibantu. Alasan pertama, orang-orang yang terpilih itu paling membutuhkan.

Ketiga keluarga yang rumahnya "dibedah" terdiri atas dua keluarga tiga anak dan seorang nenek. Dua keluarga tersebut hanya memiliki penghasilan sekitar Rp 20.000 hingga Rp 30.000 per hari sebagai buruh tani, sementara sang nenek sudah tinggal sebatang kara.

Alasan kedua, desa ini tidak jauh dari Jakarta, tetapi tetap merepresentasikan kebutuhan di lapangan. Dengan memilih tempat yang tidak jauh dari Ibu Kota, menurut James, para relawan dapat turun tangan langsung bersama berbagai pemangku kepentingan.

Begitulah, ketika upacara penyerahan usai, Desa Cijayanti kembali lengang. Para relawan kembali ke negaranya. Namun, pekerjaan belum usai. Tinggal beberapa orang dari Habitat for Humanity Indonesia, para pekerja yang membangun rumah, dan penduduk desa tersebut. Masih ada satu minggu lagi hingga rumah-rumah berdinding beton dan GRC Board tersebut dapat ditempati oleh pemiliknya. 

Tiga rumah dengan biaya pembangunan masing-masing mencapai Rp 30 juta ini hanya sebagian kecil dari pembangunan yang sudah dilakukan oleh Habitat for Humanity Indonesia selama 16 tahun belakangan. Setidaknya, dalam lima tahun ke depan, Habitat for Humanity sudah menargetkan pembangunan bagi 60.000 keluarga di seluruh Indonesia.


http://properti.kompas.com/read/xml/2013/09/06/0351286/Relawan.Korea.Rambah.Desa.Miskin.Pinggiran.Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Forum Indah Web Id Powered by Blogger