Rabu, 11 September 2013

Seru, "Perang" Pusat Belanja di UEA

PUSAT BELANJA

Seru, "Perang" Pusat Belanja di UEA

Penulis : Hilda B Alexander | Kamis, 12 September 2013 | 08:13 WIB

www.wikimedia.org

Eskalasi "perang" pusat belanja di Dubai semakin menjadi. Para pengembang berlomba memperluas ruang-ruang ritel eksisting agar dapat menampung lebih banyak pengunjung. DUBAI, KOMPAS.com - "Perang" pusat belanja tak hanya terjadi di Indonesia. Di Uni Emirat Arab (UEA) juga tengah berlangsung fenomena serupa. Para pengembang berlomba membangun ruang ritel komersial dengan keistimewaan masing-masing demi mendapat predikat terbesar, termewah dan termahal.

Rivalitas tidak hanya terjadi antarpusat belanja eksisting dengan skala regional yang menguasai pasar ritel sebesar 66 persen, melainkan juga bangunan baru dan yang masih dalam perencanaan. Menurut Jones Lang LaSalle, jumlah tersebut bakal ditambah 371.000 meter persegi ruang ritel lainnya yang masuk pasar dalam dua tahun ke depan.

Rencana Majid Al Futtaim untuk menghabiskan 272,3 juta dollar AS (Rp 3,025 triliun) guna memperluas Mall of the Emirates, semakin menambah eskalasi "pertempuran".  Renovasi Mall of the Emirates akan mencakup distrik fesyen, arena rekreasi dan olahraga. Pekerjaan konstruksinya sudah dimulai pada distrik fesyen seluas 5.000 meter persegi dengan dana senilai Rp 305 miliar.Salah satu pusat belanja terbesar di dunia ini beroperasi pada 2005 dengan ruang sewa seluas 233.000 meter persegi. Di dalamnya terdapat 520 toko dan telah dikunjungi oleh lebih dari 36 juta orang dalam setahun. Namun, angka-angka ini masih belum seberapa bila dibandingkan dengan Dubai Mall yang disebut-sebut sebagai destinasi belanja dan hiburan dunia.

Mall of Emirates saat ini merupakan mal terbesar kedua di UEA. Akan tetapi, rekor ini bakal tumbang oleh Yas Mall di Abu Dhabi. Ruang ritel ini dijadwalkan beroperasi pada musim semi berikutnya. Tahap pertama akan membawa 30 merek internasional.

"Menjadi sangat penting bagi Mall of the Emirates untuk terus meningkatkan posisi teratas di pasar. Saya pikir ada potensi baik untuk pengembangan lebih lanjut," ujar analis CBRE Matthew Green.

Emaar, pemilik Dubai Mall, awal tahun 2013 juga telah mengumumkan rencana untuk memperluas asetnya demi mengakomodasi 100 juta pengunjung dalam setahun. Tahun 2012, mal ini dikunjungi 65 juta orang. Tahap pertama dari proyek ini berfokus pada fitur ruang fesyen.

Selain pusat belanja yang dikembangkan swasta, pemerintah tak mau kalah. Musim gugur yang lalu otoritas mengumumkan rencana untuk mengembangkan Mohammed bin Rashid City, sebuah proyek baru yang akan mencakup pusat perbelanjaan terbesar di dunia.

Meski bertebaran pusat belanja dengan ukuran raksasa di negara ini, namun, tingkat kekosongan masih berada pada level stabil yakni sekitar 13 persen. Rerata harga sewa mencapai Rp 15,2 juta per meter persegi per bulan.


http://properti.kompas.com/read/xml/2013/09/12/0813545/Seru.Perang.Pusat.Belanja.di.UEA

0 komentar:

Poskan Komentar

◄ Newer Post Older Post ►
 

© Forum Indah Web Id Powered by Blogger